Jakarta - Pada 1710, Batavia menjadi magnet bagi para imigran asal Cina. Maklum, saat itu di kota ini, di daerah Ommelanden--daerah luar Benteng Kota Lama, sekitar Kali Besar--terdapat 130 pabrik penggilingan tebu.
Setiap satu pabrik penggilingan mampu menyerap tenaga sampai 200 orang. Hingga 1730-an, ribuan orang Cina perantauan (hoakiau) Hokkian asal Fukien, Cina bagian selatan, terus berbondong-bondong ke Batavia.
Gubernur Jenderal VOC Adrian Valckenier, yang berkuasa pada 1737-1741, membiarkan kedatangan imigran tersebut. Valckenier terpikat oleh etos kerja, daya tahan, dan keterampilan kaum Hokkian itu.
Sayang, gelombang imigrasi tak hanya membawa Hokkian berkualitas, tapi juga ada yang sering berbuat kriminal. Jumlah kaum imigran terus membengkak, melebihi lapangan kerja yang ada. Akibatnya, keseimbangan sosial pun mulai terganggu.
Puncaknya adalah pada 1740, saat kondisi keuangan pabrik-pabrik gula itu mulai goyah. Bencana kelaparan melanda. Ribuan karyawan terpaksa diberhentikan. Mereka pun menjadi penganggur dan tidak sedikit yang menjadi preman jalanan. Angka kriminalitas pun meningkat.
Demi menjaga keamanan, para juragan kemudian mempersenjatai diri, ada pula yang membayar centeng. Bahkan para mandor juga dipersenjatai. “Karena memang dipekerjakan untuk mengelola ribuan pekerja, yang sebagian budak itu rawan percikan pemberontakan,” kata sejarawan Windoro Adi kepada Detik awal pekan lalu.
Untuk memulihkan kondisi tersebut, Baron van Imhoff, seorang anggota Majelis Hindia Belanda, mengusulkan memindahkan kaum imigran kriminal tersebut ke Sri Lanka. Gelombang imigran dari Cina ke Batavia pun mulai dibatasi.
Berbagai pungutan liar diterapkan, yang bertujuan memberatkan pengusaha dan pekerja Cina. Harapannya, kaum Hokkian yang tidak mampu tersingkir dari Batavia. Usul tersebut lalu dilaksanakan Valckenier.
Namun kemudian beredar kabar imigran Cina tersebut tidak dibawa ke Sri Lanka, melainkan dibunuh dan mayatnya dibuang ke tengah laut